End Year Reflection | 2020
How was your 2020?
Gue yakin sih untuk menjawab pertanyaan itu, banyak yang akan setuju kalau 2020 ini terasa berat dilalui tapi terasa begitu cepat berlalu. Hampir setahun kita semua "dipaksa" untuk terbiasa dengan keadaan yang tidak biasa - new normal. Keterpaksaan itu hampir dialami semua kalangan, bahkan Balita yang belum lama mengenal dunia pun terpaksa harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak biasa ini, yang seharusnya mereka sedang menikmati serunya bermain dengan teman sebaya, energinya masih begitu banyak untuk kesana kemari, dan sedang semangat-semangatnya untuk pergi ke sekolah, namun di tahun 2020 ini mereka dipaksa untuk hanya melakukan aktifitas di dalam rumah, segala sesuatunya dilakukan secara online, gue cuma bisa berharap meski keadaan yang seperti ini tapi mereka tidak akan kehilangan indahnya masa kecil mereka.
Masih lengket diingatan gue saat malam pergantian tahun 2019 menuju 2020, hujan deras banget bayangin aja yang biasanya malam tahun baru banyak acara meriah di luar atau versi gue yang hanya sekedar kumpul-kumpul sama keluarga buat bakar-bakar itu terpaksa cuma di dalem rumah karena hujan deres dan keesokan harinya tanggal 1 Januari 2020 Jakarta banjir. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, since day one nya 2020 kita sudah dilatih untuk #StayAtHome ya :) .
Drama banjir saat itu tidak berlangsung lama, sampai bulan Februari 2020 masih berjalan normal meskipun sudah banyak issue Covid-19 yang mulai melebarkan sayapnya kebeberapa negara tapi di Indo masih nyantai dan gue sendiri pun saat itu berpikiran positif aja kalau ngga akan sampai ke Indo, sampai memasuki awal bulan Maret...jengjeng tamu yang paling dibenci seluruh dunia ini mendarat di Indo, iya si kopit :). Meskipun saat itu pemerintah mencoba menenagkan kita semua tapi tetep aja saat itu cheos banget, harga masker yang gila banget mahalnya dan langka, belum lagi panick buying yang dilakukan kaum menengah ke atas karena adanya isu kalo di Indo bakal lockdown. Beberapa hari setelah kasus positif pertama, sekolah langsung dihimbau untuk dilakukan secara online, tidak lama kemudian disusul beberapa perkantoran mulai mengambil tindakan untuk work from home dan saat ada kebijakan PSBB semua kegiatan dilakukan dari rumah.
Di tahun 2020 ini juga pertama kalinya merasakan bulan puasa tanpa bukber dengan teman, semua kegiatan ibadah full dilakukan di rumah. Saat itu, gue berharap banget kalau Covid-19 bisa selesai saat bulan puasa supaya pas lebaran keadaan sudah normal dan bisa merayakan lebaran seperti biasanya. Tapi ternyata tidak semudah itu hhhhhhh. Yap, tahun ini segala bentuk perayaan agama apapun dilakukan dengan sangat terbatas. Covid ini memang berdosa sekali.
Tahun 2020 itu sangat meme-able karena seluruh dunia berasa lagi diprank selama setahun, sungguh sangat humoris dan jenaka...
Kelak nanti anak cucu kita kalau mendengar cerita tentang apa yang terjadi tahun ini, mulai dari Covid-19, PHK besar-besaran, semua aktifitas dilakukan dari rumah, ketemu teman sulit, main dan jalan-jalan keluar juga sangat sulit, belum lagi bencana banjir, kehilangan seseorang, Indonesia yang sampai resesi, harga minyak anjlok dan masih banyak yang lainnya.... mereka mungkin akan menangis terharu sekaligus bersyukur terlahir setelah tahun 2020.
Belum lagi banyak rencana-rencana yang berantakan atau terpaksa tertunda di tahun ini. Mimpi-mimpi yang sudah dibangun dan berharap akan terwujud di 2020 justru harus bersabar dan ikhlas bahwa yang terwujud adalah mimpi buruk...
Meskipun 2020 terasa begitu berat tapi somehow buat gue tahun ini sangat amat cepat berlalu.
We may remember 2020 as a tough year, but someday we'll thankful that 2020 was ever happened to us thus make us stronger.



Comments
Post a Comment